Musafir Lalu, Penyejuk Kalbu

"...Jadilah kamu generasi Rabbani-yang sempurna iman dan taqwanya , dikeranakan kamu sentiasa mengajarkan kitab dan dikeranakan kamu sentiasa mempelajarinya." (Ali Imran:79)

Wednesday, March 17, 2010

Perjuangan Ummu Imarah

Ummu Imarah adalah seorang wanita dari Bani Mazin an-Najar. Nama lengkapnya adalah Nusaibah binti Ka’ab bin Amru bin Auf bin Mabdzul al-Anshaiyah. Beliau wanita yg bersegera masuk Islam, salah seorang dari dua wanita yg bersama para utusan Anshar yg datang ke Mekah utk melakukan bai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disamping memiliki sisi keutamaan dan kebaikan ia juga suka berjihad pemberani kesatria dan tidak takut mati di jalan Allah. Nusaibah ra ikut pergi berperang dalam Perang Uhud besama suaminya dan bersama kedua anaknya dari suami yg pertama, kedua anaknya bernama Abdullah dan Hubaib.

Di siang hari beliau memberikan minuman kepada yg terluka namun tatkala kaum muslimin porak-peranda dalam Perang Uhud itu, beliau segera mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn membawa pedang dan menyerang musuh dgn anak panah. Beliau berperang dgn dahsyat. Beliau menggunakan ikat pinggang pada perutnya hingga teluka sebanyak tiga belas tempat. Yang paling parah adalah luka pada pundaknya yg tekena senjata dari musuh Allah yg bernama Ibnu Qami’ah yg akhirnya luka tersebut diobati selama satu tahun penuh hingga sembuh. Nusaibah ra sempat menganggap ringan lukanya yang berbahaya ketika penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru agar kaum muslimin menuju Hamraul Asad maka Nusaibah mengikat lukanya dgn bajunya akan tetapi tidak mampu utk menghentikan cucuran darahnya.

Ummu Imarah menuturkan kejadian Perang Uhud demikian kisahnya “Aku melihat orang-oang sudah menjauhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga tinggal sekelompok kecil yg tidak sampai bilangan sepuluh orang. Saya, kedua anakku dan suamiku berada di depan beliau utk melindunginya sementara orang-orang kucar-kacir. Beliau melihatku tidak memiliki perisai dan beliau melihat pula ada seorang laki-laki yg mundur sambil membawa perisai. Beliau besabda ‘Berikanlah peisaimu kepada yg sedang berperang!’ Lantas ia melemparkannya kemudian saya mengambil dan saya pergunakan utk melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu yg menyerang kami adalah pasukan berkuda, seandainya mereka berjalan kaki sebagaimana kami maka dgn mudah dapat kami kalahkan insya Allah. Maka tatkala ada seorang laki-laki yg berkuda mendekat kemudian memukulku dan aku tangkis dgn pisaiku sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan pedangnya dan akhirnya dia hendak mundur maka aku pukul urat kaki kudanya hingga jatuh teguling. Kemudian ketika itu Nabi berseru ‘Wahai putra Ummu imarah bantulah ibumu.. bantulah ibumu..’ Selanjutnya putraku membantuku utk mengalahkan musuh hingga aku berhasil membunuhnya.” .Putra beliau yg bernama Abdullah bin Zaid bekata “Aku teluka. Pada saat itu dgn luka yg parah dan darah tidak berhenti mengalir maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ‘Balutlah lukamu!’

Sementara ketika itu Ummu Imarah sedang menghadapi musuh tatkala mendengar seruan Nabi, ibu menghampiriku dgn membawa pembalut dari ikat pinggangnya. Lantas dibalutlah lukaku sedangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri ketika itu ibu bekata kepadaku ‘Bangkitlah besamaku dan terajanglah musuh!’Hal itu membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ‘Siapakah yg mampu berbuat dgn apa yg engkau perbuat ini wahai Ummu Imarah?’ Kemudian datanglah orang yg tadi melukaiku maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Inilah yg memukul anakmu wahai Ummu Imarah!” Ummu Imarah bercerita “Kemudian aku datangi orang tersebut kemudian aku pukul betisnya hingga roboh.” Ummu Imarah melihat ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum krn apa yg telah diperbuat olehnya hingga kelihatan gigi geraham baginda,lantas baginda bersabda “Engkau telah menghukumnya wahai Ummu Imarah.” Kemudian mereka pukul lagi dgn senjata hingga dia mati. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Segala puji bagi Allah yg telah memenangkanmu dan meyejukkan pandanganmu dgn kelelahan musuh-musuhmu dan dapat membalas musuhmu di depan matamu.” . Selain pada Perang Uhud Ummu Imarah juga ikut pada dalam bai’atur ridwan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Hudaibiyah dgn demikian beliau ikut serta dalam Perang Hunain.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat ada bebeapa kabilah yg murtad dari Islam di bawah pimpinan Musailamah al-Kadzab selanjutnya khalifah Abu Bakar ash-Shidiq mengambil keputusan utk memerangi orang-orang yg murtad tesebut. Maka bersegeralah Ummu Imarah mendatangi Abu Bakar dan meminta izin kepada beliau utk begabung bersama pasukan yg akan memerangi orang-orang yg murtad dari Islam. Abu Bakar ash-Shidiq bekata kepadanya “Sungguh aku telah mengakui perananmu di dalam perang Islam maka berangkatlah dgn nama Allah.” Maka beliau berangkat bersama putranya yg bernama Hubaib bin Zaid bin Ashim. Di dalam perang ini Ummu Imarah mendapatkan ujian yg berat. Pada perang tesebut putranya tertawan oleh Musailamah al-Kadzab dan ia disiksa dgn bebagai macam siksaan agar mau mengakui kenabian Musailamah al-Kadzab. Akan tetapi bagi putra Ummu imarah yg telah tebiasa dididik utk besabar tatkala beperang dan telah dididik agar cinta kepada kematian syahid ia tidak kenal kompromi sekalipun diancam.

Terjadilah dialog antaranya dgn Musailamah, Musailamah berkata; "Engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?" Hubaib; "Ya!" Musailamah; "Engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?" Hubaib; "Aku tidak mendengar apa yg kamu katakan itu." Kemudian Musailamah al-Kadzab memotong-motong tubuh Hubaib hingga tewas. Suatu ketika Ummu Imarah ikut serta dalam perang Yamamah besama putranya yg lain yaitu Abdullah. Beliau bertekad utk dapat membunuh Musailamah dgn tangannya sebagai balasan bagi Musailamah yg telah membunuh Hubaib akan tetapi takdir Allah menghendaki lain yaitu bahwa yg mampu membunuh adalah putra beliau yg satunya yaitu Abdullah. Ia membalas Musailamah yg telah membunuh saudara kandungnya. Tatkala membunuh Musailamah Abdullah bekerjasama dgn Wahsyi bin Harb tatkala Ummu Imarah mengetahui kematian si Thaghut al-Kadzab maka beliau bersujud syukur kepada Allah. Ummu Imarah pulang dari peperangan dgn membawa dua belas luka pada tubuhnya setelah kehilangan satu tangannya dan kehilangan anaknya yg terakhir yaitu Abdullah. Sungguh kaum muslimin pada masanya mengetahui kedudukan beliau. Abu Bakar ash-Shidiq pernah mendatangi beliau utk menanyakan kondisinya dan menenangkan beliau. Khalid si pedang Islam membantu atas penghormatannya dan seharusnyalah kaum muslimin di zaman kita juga mengetahui haknya pula. Beliau sungguh telah mengukir sejarahnya dgn tinta emas.

Sumber: Nisa’ Haular Rasuuli Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

sumber file al_islam.chm

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home